Bandung, LPM Reaksi — Latihan Kepemimpinan Tingkat 4 (LKM-4) yang resmi ditunda pada periode kepengurusan Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (Dema-FST) sebelumnya kini menjadi agenda krusial yang dipertaruhkan pada kepengurusan saat ini. Di tangan baru, agenda ini telah dua kali mundur dari rencana awal pada 1-5 September yang direncanakan sebelum LKM-1. Rapat Pimpinan (Rapim) pada Rabu (14/10/2026) pun menyepakati jadwal baru pada 20-22 November 2026.

Pada puncak kegiatan Musyawarah Tinggi dan Musyawarah Mahasiswa (Musti/Musma), Sabtu (13/06/2026), Ketua Umum Dema-FST terpilih saat itu, Ikhsan Nur Alam, menyatakan komitmen secara lisan dan tertulis di buku pribadinya untuk dapat menyelenggarakan LKM-4 di awal periode. 

“Dalam forum tersebut, saya menyampaikan kesediaan untuk mengusahakan pelaksanaan LKM-4 pada awal periode,” ujar Ikhsan kepada LPM Reaksi melalui pesan daring, pada Minggu (1/11/2026). 

Menurutnya, komitmen itu lahir dari aspirasi dua himpunan, yaitu Himatika Sains dan Himatif, dan sejak awal disertai harapan agar seluruh lembaga turut berkontribusi untuk menyukseskan agenda tersebut. Akan tetapi, hingga tiga bulan keberjalanan kepengurusan yang dinahkodai olehnya, komitmen tersebut belum kunjung terealisasi.

Linimasa Perjalanan LKM-4
Linimasa Perjalanan LKM-4

Alasan di Balik Dua Kali Pengunduran

Pihak legislatif yang diwakili oleh Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (Sema-FST), M. Hazmi Aqila mengamini bahwa pelaksanaan LKM-4 ini telah mengalami dua kali pengunduran. Ia memberikan keterangan bahwa pembatalan jadwal pertama disebabkan oleh keterbatasan dana.

 “Tanggal 1-5 itu tidak bisa dilaksanakan karena keterbatasan dari dana yang dimiliki oleh Dema-FST karena katanya Dema-FST belum melakukan pencairan ke Al-Jamiah,” ungkapnya saat dihubungi LPM Reaksi melalui Google Meet pada Rabu (21/10/2026).

Soal dana ini, Ikhsan menjelaskan Dema-FST tidak menerima sisa anggaran dari kepengurusan sebelumnya, dan untuk pencairan anggaran kegiatan pun baru dapat dilakukan setelah program kerja terlaksana. Bahkan untuk LKM-4 ini, Dema-FST berencana menarik registrasi peserta sebagai tambahan dana. 

“Adapun langkah yang kami upayakan untuk mendukung pembiayaan LKM-4 adalah melalui penerapan registrasi peserta sebagai salah satu sumber tambahan dana,” jelasnya.

Sementara itu, pengunduran jadwal kedua dilatarbelakangi persiapan teknis yang belum matang. Seorang pengurus Dema-FST yang meminta namanya tidak disebutkan, mengaku bahwa panitia belum terbentuk utuh hingga mendekati tanggal pelaksanaan, meskipun telah mengirimkan Surat Permohonan delegasi panitia kepada setiap Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) lingkup FST. Jumlah panitia yang terhimpun saat itu baru 12 orang, termasuk dua delegasi dari Matematika. 

“Pelaksanaan juga bergantung pada kesiapan teknis serta realisasi kesepakatan dan delegasi dari pihak-pihak yang terlibat,” jelasnya kepada LPM Reaksi melalui pesan daring pada Rabu (28/10/2026).

Kurangnya partisipan dalam struktur kepanitiaan tersebut diamini oleh Hazmi. Ia menyebutkan bahwa pihaknya telah menerima Term of Reference (ToR) kegiatan dan konsep kegiatan pun sudah rampung, hanya saja sumber daya yang diperlukan memang belum terpenuhi. Namun, kembali ia tegaskan hal-hal teknis seperti ini adalah wewenang dan tugas badan eksekutif. 

“Kalau misalkan masuk ke teknis, kita nggak ada kewenangan untuk intervensi sama teknis.”

Ikhsan membenarkan sebagian gambaran itu. Menurutnya, delegasi panitia yang diharapkan dari setiap HMJ belum terpenuhi, tetapi konsep kegiatan dalam tahap penyempurnaan agar sesuai dengan Peraturan Senat Mahasiswa (Persema) No. 07 Tahun 2025. Ia juga mengakui bahwa pada masa transisi belum terbentuk struktur kepanitiaan yang matang. 

“Saya menyadari bahwa pembentukan kepanitiaan dan pemetaan kebutuhan sumber daya manusia semestinya dapat dipersiapkan lebih awal,” tuturnya.

Pandangan Ketua Umum HMJ

Ketua Umum Himatika Sains, Regana Fikri Adiba, mengatakan bahwa dalam forum Rapim Dema-FST menyampaikan sejumlah kendala yang dialami: kurangnya sumber daya manusia untuk kepanitiaan, adanya perubahan tempat kegiatan, dan kurangnya kesiapan panitia dan pemateri yang berkompeten. 

“Selain itu, rencana pemateri dari Presma/Ketua Dema/Sema ruang lingkup fakultas maupun universitas masih dalam tahap komunikasi dan belum final,” jelas Regana kepada LPM Reaksi saat diwawancarai di Masjid Ikomah Kampus 1 UIN Bandung, pada Senin (26/10/2026).

Di samping itu, Regana menilai pengunduran dua kali itu merupakan bentuk kegagalan Ketua Umum Dema–FST dalam mewujudkan janjinya. Menurutnya, ada pula alasan lain di balik pengunduran yang terhitung dua kali itu.

“Namun menurut saya, ada alasan tersirat bahwa PAO [Pengembangan Aparatur Organisasi] maupun Ketua Umum Dema memang tidak serius menggarap LKM-4 ini,” ujarnya.

Ikhsan mengungkapkan bahwa LKM-4 ini telah ditetapkan sebagai salah satu fokus Rapat Kerja (Raker) setelah terbentuknya kepengurusan baru, serta menjadi bahasan dalam rapat bidang rutin setiap Selasa dan Rapat Umum Dema-FST sejak Agustus hingga November. Ia mengakui upaya tersebut belum menghasilkan realisasi sesuai waktu yang diharapkan. “Secara kelembagaan, LKM-4 tetap menjadi perhatian dan agenda yang terus diupayakan oleh Dema-FST.”

Regana juga menyebutkan pihaknya merasa dirugikan akibat ketidakjelasan penyelenggaraan kegiatan ini. Regana mengaku bahwa delegasi panitia dan peserta dari Himatika Sains telah disiapkan dengan baik, tetapi ternyata harus menelan kenyataan berupa pengunduran linimasa yang membentur agenda di bulan November.

Minimnya Informasi 

Keluhan serupa dikemukakan oleh Ketua Umum Himasaifi, Indriani Herawati kepada LPM Reaksi di gedung FST pada Rabu (21/10/2026). Ia menyebutkan bahwa pengunduran LKM-4 itu menimbulkan tanda tanya di kalangan pengurus dan delegasi karena minimnya informasi dari pihak Dema-FST, sekaligus menghadirkan kekecewaan terhadap pengunduran itu.

“Berdampak tuh ke anak-anak pengurus gitu, jadi kayak merasa dikecewakan karena terus-terusan diundur,” terangnya. 

Ketua Departemen PAO Himatika Sains, Dafo Safrudin, juga menyayangkan kurangnya tahap koordinasi yang jelas dari pihak Dema-FST terkait perkembangan kegiatan LKM-4 ini. Informasi yang diberikan dinilai sangat minim dan sering kali pihak PAO Himatika Sains dibuat bertanya-tanya hingga harus menunggu lama tanpa kejelasan. Hambatan komunikasi dari pihak Dema-FST turut dirasakan oleh pihak legislatif. Hazmi memahami bahwa kepengurusan Dema-FST saat ini masih baru, tetapi koordinasi dan komunikasi tetaplah kunci yang harus dijaga karena pihaknya pun mengalami kesulitan komunikasi dengan pihak Dema-FST saat penyusunan ToR.

“Kalau misalkan masalah komunikasi nggak mau beres, mau seperti apa Dema-FST ke depannya?”

Saran serupa disampaikan oleh Regana yang merujuk langsung kepada Ketua Bidang PAO Dema-FST. “Tolong komunikatif, jalankan fungsi sebagai Kabid dengan benar, dan selesaikan secara baik-baik,” ujarnya, yang ia sebut sebagai bentuk kepedulian terhadap keberjalanan Ormawa FST. Namun, hingga berita ini diturunkan, Ketua Bidang PAO Dema-FST belum memberikan tanggapan mengenai hal tersebut saat dihubungi LPM Reaksi.

Persoalan komunikasi antarlembaga, Ikhsan menyebutkan telah dilakukan melalui beberapa ruang koordinasi formal, mulai dari Rapim, forum koordinasi antarlembaga, sampai komunikasi pada tingkat bidang. Namun, ia juga mengakui komunikasi informal dan pendekatan personal antarlembaga belum berjalan optimal. Ia menyatakan persoalan ini sebagai aspek yang harus diperbaiki.

Kacamata PAO 

Ketua Bidang PAO Himatif, Abdul Latief Dzuhri (James), mempertanyakan rasionalitas kendala yang disampaikan oleh pihak Dema-FST. Menurutnya, alasan yang dibawakan tidak cukup kuat untuk digunakan karena seharusnya telah dipersiapkan dari jauh-jauh hari. 

“Kurang etis apabila alasan persiapan kembali digunakan, mengingat program kerja ini sudah lama dibahas. Seharusnya, pada tahap ini pembahasan sudah bukan lagi mengenai persiapan dasar,” tutur James kepada LPM Reaksi di halaman FST, pada Kamis (22/10/2026).

Himatif pula secara resmi mengeluarkan pernyataan sikap yang salah satu poinnya mengkritisi manajerial penyelenggaraan LKM-4 pada Senin (19/10/2026). Melalui pernyataan sikap tersebut, Himatif menuntut Dema-FST untuk melaksanakan perencanaan yang masuk akal, informasi yang jelas, dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil. Dalam wawancaranya, James pun menegaskan bahwa bidang PAO Himatif tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan pengunduran LKM-4 ini, dan ia memperkirakan PAO HMJ lain mengalami hal serupa karena keputusan tersebut lahir dari Rapim, bukan Forum Kaderisasi Bersama (FKB). Padahal menurutnya, PAO pun terlibat intens dalam pengelolaan LKM-4 sehingga lebih mengetahui kondisi sebenarnya.

 “Hal tersebut menimbulkan banyak kejanggalan. Mengapa selama ini pembahasannya hanya melalui rapim, rapim, dan rapim?”

Gagasan serupa disampaikan oleh Dafo. Ia menyebutkan bahwa pembahasan LKM-4 yang sepenuhnya dibawa ke Rapim memunculkan praduga negatif, 

“Dengan adanya LKM-4 dibahas di Rapim adalah salah satu representasi bentuk ketidakpercayaan para pimpinan ke setiap PAO dari HMJ beserta Dema-nya masing-masing,” ujarnya kepada LPM Reaksi di Laboratorium Terpadu Solahudin Sanusi pada Kamis (22/10/2026).

Ikhsan menjelaskan bahwa Dema-FST memandang pernyataan sikap yang dikeluarkan oleh Himatif adalah bentuk kepedulian terhadap kaderisasi, dan menerima kritik yang disampaikan secara terbuka tersebut. Namun, ia berharap persoalan antarlembaga lebih dulu dibicarakan melalui dialog langsung. Ia pun mengaku telah berkomunikasi langsung dengan Ketua Umum Himatif setelah beberapa hari pernyataan sikap itu dipublikasikan. 

Sinergi yang Belum Utuh

Di balik sengkarut linimasa pelaksanaan LKM-4, sebagai kepala lembaga legislatif, Hazmi menilai bahwa FST belum bersatu secara utuh untuk mencapai tujuan bersama. Sebab, ia melihat setiap jurusan masih fokus terhadap agendanya masing-masing, begitupun di Dema-FST sendiri yang berfokus pada program kerja masing-masing bidangnya. 

“Ternyata mereka fokus pada programnya masing-masing. Dalam artian tidak menjadikan LKM-4 ini sebagai dominan yang utama buat awal periode.”

Ikhsan menepis anggapan bahwa pengunduran LKM-4 dipicu oleh terpecahnya fokus pengurus terhadap program bidangnya masing-masing. Menurutnya, program bidang dan persiapan LKM-4 diupayakan berjalan beriringan. Meskipun demikian, ia mengaku pembagian fokus dan manajemen prioritas perlu dievaluasi. Salah satu pengurus Dema-FST yang menyampaikan pandangan pribadinya, juga memandang persoalan penyelenggaraan LKM-4 ini perlu ditempatkan dalam konteks tanggung jawab bersama karena pada hakikatnya LKM-4 merupakan agenda kaderisasi tingkat fakultas yang membutuhkan koordinasi antara Dema-FST, PAO, HMJ, serta unsur terkait lainnya. Merujuk pada Pasal 16 ayat (1) Persema No. 07 Tahun 2025, Ikhsan menjelaskan bahwa Ormawa FST bertanggung jawab bersama dalam melaksanakan kaderisasi formal dan nonformal. Ia menggarisbawahi bahwa komitmen awal periode ini bukan hanya tentang kesediaan Dema-FST sebagai penyelenggara. 

“[Ini] juga membutuhkan kesediaan seluruh Ormawa untuk mengambil bagian dalam proses kaderisasi bersama.” 

Namun, ia menegaskan Dema-FST tetap bertanggung jawab sebagai penyelenggara untuk memastikan kesiapan konsep, struktur pelaksana, dan keberlangsungan kegiatan.  Perihal jadwal 20-22 November, Ikhsan mengatakan telah meminta Sekretaris Umum Dema-FST untuk menyusun berita acara hasil Rapim yang akan ditandatangani oleh seluruh Ketua Umum Ormawa lingkup FST sebagai legalitas. Proses penandatanganan itu masih ditindaklanjuti kepada ketua HMJ. Atas dua kali pengunduran itu, secercah harapan disampaikan oleh Ketua Umum Himasaifi,

 “Saya berharap setelah adanya pengunduran-pengunduran yang enggak sekali ini, harapannya itu terakhir gitu, terakhir pengunduran, tidak ada pengunduran kembali,” Ujar Indriani.


Baca berita pengunduran LKM-4 pada periode sebelumnya di bawah ini:

https://www.instagram.com/p/DZAoAj9j9N5/?srtk=MWJmdG5vYmYwNzQ3eQ==


Reporter: Adam Sirojuddin, Mariya Ulfa, Gunawan Syabani, Hawa Agis

Redaktur: Indrianti

Multimedia: Baihaqi Fazrurrahman