Cianjur, LPM Reaksi – Warga Dusun Sukanagara, RW 03 dan RW 04, Desa Sukamantri, Kecamatan Karangtengah, kini memiliki fasilitas pembakaran sampah bersama yang lebih tertata. Fasilitas ini dibangun secara gotong royong oleh mahasiswa KKN 189 UIN Sunan Gunung Djati Bandung bersama warga, dan perangkat dusun yang diresmikan pada Sabtu (23/08/2026) di Lapangan Sukanagara, desa Sukamantri.

Dusun Sukanagara belum terjangkau layanan pengangkutan sampah rutin menuju tempat pembuangan akhir. Karena itu, sebagian besar warga membakar sampah rumah tangga sendiri di pekarangan, lahan kosong, hingga pinggir jalan, tanpa lokasi dan jadwal yang disepakati. Sampah organik dan anorganik dibakar bersamaan tanpa dipilah. Praktik ini dinilai sederhana dan tanpa biaya, tetapi menimbulkan asap yang mengganggu warga dan risiko kebakaran, terutama saat kemarau.

Kajian ilmiah internasional menyebut pembakaran sampah terbuka di negara berkembang berkaitan dengan risiko kesehatan akibat paparan asap dan partikel berbahaya.

Untuk mengatasinya, mahasiswa memakai pendekatan penelitian tindakan partisipatif. Tim memetakan kondisi persampahan, lalu bermusyawarah dengan ketua RW, ketua RT, tokoh masyarakat, dan warga tentang kebutuhan, lokasi, dan desain fasilitas. Lokasi dipilih dengan mempertimbangkan jarak aman dari permukiman dan kemudahan akses bagi semua RT. Fasilitas dibangun dengan material sederhana yang mudah diperoleh di sekitar lokasi, kemudian diuji coba dan disertai sosialisasi cara penggunaan dan perawatan.

Fasilitas itu berupa titik pembakaran terkendali dengan pembatas fisik, sehingga sampah dibakar di satu tempat yang diawasi bersama. Bentuknya belum berupa insinerator berteknologi tinggi karena keterbatasan anggaran dan kesiapan sumber daya di tingkat dusun.

Setelah fasilitas berdiri, tim mencatat sejumlah warga mulai membawa sampahnya ke fasilitas bersama, tidak lagi membakar di pekarangan masing-masing. Partisipasi warga meningkat, pembakaran di sembarang lokasi berkurang, dan pemahaman tentang pentingnya memilah sampah organik dan anorganik sebelum dibakar serta bahaya membakar terlalu dekat permukiman bertambah.

Mahasiswa menegaskan fasilitas ini bukan solusi akhir, melainkan langkah transisi menuju pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. Agar tetap berjalan setelah KKN berakhir, mereka menyarankan jadwal pembakaran bersama, kelompok warga penanggung jawab kebersihan dan keamanan fasilitas, serta edukasi pemilahan sampah yang berkelanjutan. Ke depan, fasilitas ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi bank sampah untuk sampah anorganik bernilai ekonomis dan pengolahan sampah organik menjadi kompos, dengan dukungan pemerintah desa dan perangkat dusun.