Cianjur, LPM Reaksi – Galon air mineral bekas kini punya fungsi baru di RW 03 dan RW 04 Desa Sukamantri, Kecamatan Karangtengah. Mahasiswa KKN SISDAMAS-189 UIN Sunan Gunung Djati Bandung memperkenalkan "Galon Komposter" kepada warga, yaitu wadah sederhana untuk mengolah sampah dapur menjadi kompos padat dan pupuk organik cair (POC). Kegiatan ini bertempat di Madrasah Raudlatussibyan, Sukamantri, Cianjur pada Rabu (12/8/2026).

Inovasi ini menjawab masalah yang lazim di rumah tangga. Sisa nasi, kulit buah, dan potongan sayuran yang langsung dibuang bersama sampah lain bisa membusuk, menimbulkan bau, dan mengundang lalat. Padahal sampah organik itu masih bisa diolah menjadi pupuk.

Program dimulai dengan edukasi pemilahan sampah organik dari sampah lainnya. Warga kemudian mempraktikkan pembuatan dan pengisian Galon Komposter. Lapisan dasar berupa daun kering atau potongan kardus diletakkan di atas bagian penyaring. Sampah dapur yang sudah dicacah sekitar 1–3 sentimeter dimasukkan, lalu disemprot larutan EM4 yang dicampur air gula atau air beras untuk membantu penguraian. Bagian atasnya ditutup daun kering, dan galon ditutup rapat.

Dari satu wadah dihasilkan dua produk. POC bisa dikeluarkan lewat kran setelah sekitar 1–2 minggu, lalu diencerkan dengan perbandingan sekitar 1:10 hingga 1:20 sebelum disiramkan ke tanaman. Kompos padat bisa dipanen sekitar 3–4 minggu setelah galon penuh dan didiamkan. Kompos yang matang berwarna kehitaman, bertekstur gembur, bersuhu dingin, dan beraroma tanah. Kompos itu dapat dicampur dengan tanah dengan perbandingan satu bagian kompos dan dua bagian tanah.

Mahasiswa menyebut wadah tertutup membantu menjaga dapur tetap bersih serta mengurangi bau dan lalat. Karena memakai barang bekas, warga tidak perlu membeli wadah khusus yang mahal.

Program ini juga membawa pesan ekoteologi lewat tema KKN "Merawat Alam, Menguatkan Iman, Mewujudkan Kehidupan Berkelanjutan". Dalam pandangan ini, manusia adalah khalifah yang bertugas menjaga keseimbangan alam dan mencegah kerusakan. Memilah sampah, memakai ulang galon, dan mengolah sisa dapur menjadi pupuk dipandang sebagai bentuk nyata perawatan lingkungan dari rumah.

Ke depan, mahasiswa menyarankan pendampingan berkelanjutan agar warga terbiasa mengelola sampah organik secara mandiri dan proses pengomposan dapat dipantau. Program juga diharapkan menjangkau lebih banyak warga di Desa Sukamantri.